Sunday, July 18, 2010

Selamat Jalan Delegasi Pendidikan Kota Tangsel


Delegasi Pendidikan Kota Tangsel akan meninggalkan tanah air untuk menuju Australia. Delegasi ini terdiri dari 8 orang siswa dan 8 orang pendamping. Mereka akan berada di Australia dari tanggal 21 Juli - 31 Juli 2010. Para siswa merupakan siswa peserta Students Exchange Program 2010. Mereka terdiri dari 4 orang siswa dari SMA Negeri 2 Tangsel, 3 orang siswa dari SMA Negeri 3 Tangsel, dan 1 orang siswa dari SMA Negeri 4 Tangsel. Mereka akan melakukan program shadowing dan program homestay dengan mitra siswa Australia. Sedangkan para guru pendamping akan melakukan studi komparatif pembelajaran dengan mitra guru Australia. Adapun, para kepala sekolah akan mendiskusikan peningkatan hubungan kerjasama pendidikan dengan para kepala sekolah Australia. SMA Negeri 2 Tangsel dan SMA Negeri 3 Tangsel akan melakukan penandatangan MOU dengan sekolah mitra Australia. Mari kita doakan supaya delegasi pendidikan ini dapat mencapai hasil kunjungan yang maksimal dan mereka dapat kembali ke tanah air dengan selamat. (HS 21010).

Thursday, July 1, 2010

Shadowing


Shadowing artinya membayangi. Siswa peserta Students Exchange Program Tangerang Selatan – Victoria 2010 (SEP TV 2010) akan melakukan shadowing mitra siswa Australia. Anda akan membayangi siswa mitra anda kemanapun ia pergi. Shadowing ini bermakna secara akademik, tentu saja anda tidak membayangi mitra siswa anda secara pribadi. Apa yang dapat anda lakukan ketika shadowing? Ini beberapa`anjuran yang seyogyanya bisa anda lakukan: mempelajari pola pikir, mempelajari budaya, mengambil substansi, memadukan budaya, dan tips yang harus anda lakukan.

Mempelajari pola pikir
Sistem penilaian atau assessment di Australia sangat berbeda dengan di Indonesia. Siswa Australia dinilai berdasarkan tingkat kualitas penguasaan materi pelajaran. Ini dinyatakan dalam laporan forto folio. Laporan yang berbentuk uraian kualitatif dan tidak berbentuk numeric atau angka-angka. Jadi ketika anda shadowing mitra Australia yang harus anda tajamkan adalah mempelajari pola pikir mereka , atau mencermati kualitas perbuatannya, bisa juga anda pelajari cara mereka dalam memecahkan masalah, juga cara mengatur emosi mereka. Ketika shadowing anda jangan terpesona dengan perbedaan budaya yang sepertinya serba boleh, misalnya dalam pergaulan pria dan wanita di sekolah atau dalam tata cara berbusana mereka, juga pola komunikasi antara guru dengan murid sangat ekstrim sekali perbedaannya dengan di Indonesia.

Mempelajari budaya
Ambilah sisi positif yang maksimal dari budaya Australia. Terutama kualitas budaya yang mendorong mereka sehingga bisa menjadi warga dunia. Siswa Australia akan sangat mudah diterima untuk melanjutkan studi di Amerika dan Eropa. Hal ini karena standar kelulusan mereka sudah baik secara internasional. Dalam shadowing ini anda mesti mengetahui apa yang menjadi motivasi rekan anda dalam belajar, dalam mengerjakan tugas dan dalam memandang dunia ini ke depan. Sisi budaya positif inilah yang harus anda pelajari ketika anda sedang shadowing. Mempelajari budaya positif ini bukan saja ketika anda bersama mitra anda di sekolah tapi juga ketika anda home stay di rumah mitra siswa anda.

Mengambil substansi
Anda pasti akan terperangah melihat cara berpakaian, tata rambut, dan sikap siswa Australia. Tetaplah anda menujukan apa yang menjadi kebiasaan positif anda sebagai orang timur. Tidak perlu anda hanyut dalam gaya mereka. Yang harus anda pelajari itu adalah substansi dari setiap aktivitas mereka, alasan-alasan atau motivasi yang mengiringi atau yang menjadi dasar mereka dalam beraktivitas atau dalam mengambil putusan, anda tidak usah merasa risih atau merasa kampungan, tunjukan jati diri bangsa yang sebaik-baiknya, mereka akan sangat hormat sama kebiasaan anda. Mohon diingat anda melakukan pertukaran pelajar adalah untuk memahami budaya Australia bukan untuk meniru-niru mereka. Sehingga anda diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang mumpuni yang arif dalam memahami perbedaan budaya. Ada hal-hal yang sangat umum diterima oleh warga Australia seperti hormat pada orang yang usia yang lebih tua, selalu minta ijin ketika akan melakukan sesuatu yang anda tidak yakin, selalu menunjukan kemandirian, hemat dalam penggunaan air. Padukanlah budya yang anda temuii dengan kebiasaan positif anda selam anda home stay. Misalnya anda mesti disiplin dalam membuat appointment, anda ikut serta dalam menjaga kerbersihan, dll. Sepulang dari SEP TV anda mesti tunjukan bahwa anda mempelajari sesuatu yang baik dan bahkan hal ini dapat mendorong jiwa anda untuk tumbuh lebih mandiri. Lebih jauhnya , kegiatan ini seyogyanya dapat menjadi suatu jembatan bagi anda untuk belajar di tingkat perguaruan tinggi di Australia.

Tips
Jangan mudah terpukau, jadilah duta bangsa yang baik, duta yang menujukan bahwa kita adalah bangsa yang bermartabat dan berkarakter yang memiliki ciri khas dan pantas untuk menjadi warga dunia yang disegani.Selamat menjalani pertukaran pelajar semoga anda selalu menunjukan kekompakan dan patuh pada pimpinan rombongan (HS 2010)

Saturday, June 19, 2010

SEP's SCHEDULE


The tentative schedule for the visit will be

  • Wednesday, 21 July 2010 Depart for Melbourne
  • Thursday, 22 July 2010 Arrive in Melbourne, and go to Weeroona College Bendigo. Homestay for students, Tangerang Selatan staff stay at hotel
  • Friday, 23 July 2010 Homestay for students in Bendigo (Tangerang Selatan staff will visit Bendigo Education Department)
  • Saturday, 24 July 2010 Homestay for students in Bendigo
  • Sunday, 25 July 2010 Homestay for students in Bendigo
  • Monday, 26 July 2010 Go to Castlemaine Secondary College, Homestay for students ( Tangerang Selatan staff stay at hotel)
  • Tuesday, 27 July 2010 Homestay in Castlemaine for students ( Tangerang Selatan staff will have a presentation from Castlemaine Secondary College)
  • Wednesday, 28 July 2010 Homestay in Castlemaine for students ( Tangerang Selatan staff visit local education center)
  • Thursday, 29 July 2010 Go to Sommerville Secondary College Melbourne, cultural and music performances. In the late afternoon depart for Sydney and all stay at hotel
  • Friday, 30 July 2010 Sightseeing at Sydney
  • Saturday, 31 July 2010 Depart for Jakarta

Friday, June 18, 2010

Mata Uang Australia dan Membelanjakannya


Untuk pertimbangan praktis, sebaiknya anda menukar uang rupiah anda ke dolar Australia. Mata uang dolar Australia adalah mata uang yang digunakan dalam setiap transaksi di Australia. Jadi bukan dolar Amerika. Bila memiliki mata uang dolar Australia maka anda akan dengan sangat mudah melakukan belanja. Mata uang dolar Amerika hanya untuk kemudahan menyimpan uang saja secara internasional, sedangkan untuk urusan shopping sebaiknya anda memiliki dolar Australia dalam jumlah yang mencukupi. Berikut ini wujud fisik uang dolar Austalia (lihat foto).

Uang nominal kertas A$100 , A$ 50, A$ 20, A$ 10, dan A$ 5.

Uang nominal koin logam A$ 2, A$ 1 (gold coin), terus pecahan receh 50 Cent, 20 cent, 10 cent, 5 cent

Sebaiknya anda menyimpan uang nominal A$ 50 atau A$ 20 yang memadai. Nilai nominal uang ini sangat mudah diterima bila kita belanja dibandingkan yang A$ 100. Bila kita berbelanja dengan uang nominal A$ 100 maka terkadang suka sulit pengembaliannya, apalagi bila nilai belanjaan kita itu tidak seberapa jumlahnya.

Nilai tukar kurs rupiah ke dolar Australia ada pada rentang Rp 7.700 s.d Rp. 8.500. Jadi, 1 dolar Australia sama dengan Rp 7.700 s.d Rp 8.500. Hal ini sangat tergantung dari fluktuasi nilai tukar kurs rupiah terhadap dolar Australia. Bila anda akan belanja otak anda secara otomatis suka mengkorvesi harga. Itu sangat wajar. Anda akan membandingkan. Namun, bila anda mau membeli makanan, jangan anda konversi harga makanan Australia ke rupiah. Suka terasa sangat mahal yang ujungnya tidak mau beli. Anda bisa sakit lho…! Bila anda sakit maka tentu biayanya akan jauh lebih mahal. Jadi demi kesehatan bila mau membeli makanan beli saja. Untuk biaya makan selama perjalanan akan diatur oleh Panitia. Bila anda akan jajan sendiri harga makanan itu berkisar diantara A$ 10 – A$ 15 per-hidangan. Minuman kaleng $ 3, kue-kue $ 2 , kentang goreng (chips) ukuran kecil $ 3.

Begitu anda tiba di Australia, tentu anda ingin menghubungi keluarga. Anda bisa beli sim card Australia. Mereknya adalah: Optus, Testra, Three, Vodafone. Karena anda itu hanya 10 hari saja berada di Australia maka anda sebaiknya membeli simcard Optus atau Vodafone. Sim card ini cukup baik layanannya dan memiliki hubungan yang baik dengan Indonesia. Harga terendah Sim card berikut pulsa/kreditnya ada yang $ 30 . Ini bisa untuk menelepon selama 1 jam. Setiap sms ke Indonesia biasanya dipotong sebesar 35 cen dan harga menelpon ke Indonesia berkisar antara 75 cen s.d $ 1.25 per menit, tergantung waktu menelepon.

Selamat mengeksplorasi dunia baru. Mudah-mudahan pengalaman berharga ini merupakan modal awal untuk bisa anda studi di luar negeri, khusunya di Australia. Jagalah diri anda yang baik dan senantiasalah mentaati arahan Panitia. Australia, here … I come! (HS. 2010)

Pertanyaan Seputar SEP TV 2010



1. Apa sajakah manfaat dari kegiatan Students Exchange Program Tangsel – Victoria 2010.


Manfaat yang paling utama adalah membuka wawasan siswa terhadap budaya Australia secara langsung. Peserta non-siswa melakukan studi komparatif tentang pengelolaan pendidikan secara internasional khususnya di Australia. Kegiatan ini akan berlangsung selama 10 hari dari tanggal 21 Juli s.d 31 Juli 2010.


2. Siapakah pelaksana kegiatan SEP TV 2010 dan bagaimanakah koordinasinya dengan sekolah yang akan dikunjungi di Australia?


Pelaksana utama kegiatan ini adalah Seksi Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan/Kabid Dikmenjur dan langsung dipimpin oleh Kasi Dikmenum-Bapak Drs. Dedi Rafidi. Kasi Dikmenum membentuk kepantiaan dari unsur sekolah yang akan berangkat. Panitia teknis ini diketuai oleh seorang kordinator, yaitu Bapak Drs. Ibni Afan dari SMA Negeri 4 Tangsel. Di Australia, kegiatan ini disupervsi oleh Ausindo Educational. Suatu lembaga konsultasi pendidikan yang mengatur persiapan di Australia, termasuk mengatur kegiatan di sekolah Australia yang akan dikunjungi.


3. Apakah anak saya aman mengikuti kegiatan ini?


Sangat aman dan tidak usah khawatir. Ini merupakan kegiatan formal dan resmi. Kegiatan ini diketahui dan dilaporkan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Victoria sebagai wakil dari Kedutaan RI di Australia.


4. Kegiatan apa sajakah yang dapat diiikuti oleh anak saya selama berada di Australia?


Kegiatan utama para siswa adalah belajar di sekolah Australia. Para siswa ‘membayangi’ / ‘shadowing’ siswa mitranya. Mereka juga menginap di rumah ‘orang tua’nya / ‘host family’. Peserta akan berkunjung juga ke pusat – pusat pendidikan/ educational centers yang terdapat di Australia.


5. Kemana sajakah peserta akan dibawa oleh panitia dan apa manfaatnya?


Peserta akan menjelajahi kota-kota: Melbourne, Bendigo, Castlemaine, Somerville, dan Sydney. Peserta akan mengalami budaya ‘country’ dan kota kosmopolitan Australia sekaligus. Peserta akan melihat keragaman budaya serta akan mengasah atau mempraktekan secara langsung keterampilan berbicara bahasa Inggris dalam situasi yang natural.


6. Bagaimanakah keadaan cuaca saat ini di Australia?


Saat ini di Australia sedang musim dingin. Suhu udara berkisar antara 4 – 12 derajat dan ditambah dengan angin dingin yang kencang. Persiapan mantel yang tebal, syal, penutup kepala akan sangat membantu. Kadang sering terjadi hujan, oleh karena itu membawa payung yang kuat akan sangat bermanfaat dan menunjang kegiatan.


7. Barang apa sajakah yang dapat saya bawa ke Australia?


Pemerintah Australia sangat melindungi alamnya dari kerusakan dan pencemaran. Barang yang dikategorikan dapat membawa bibit penyakit seperti telor, pisang,buah-buahan, sesuatu yang terbuat dari kulit dan kayu, barang-barang jenis ini akan ditolak masuk oleh imigrasi Australia. Adapun barang yang bisa masuk ke Australia adalah yang sudah dimasak atau already cooked dan dibawa dengan kemasan yang rapih dengan standar industri, misalnya dibungkus dengan menggunakan alumunium foil dan wrapping plastics. Barang-barang berupa makanan buatan rumah sebaiknya cantumkan kandungannya (ingredients) dalam bahasa Inggris dan tempelkan di barang tersebut (label). Obat-obatan pribadi sebaiknya bawa dari Indonesia karena akan sangat sulit mencari obat yang sesuai dengan anda di Australia.


8. Dimanakah alamat resmi anda di Australia?

Anda di pesawat akan mengisi Declaration Form. Pada form tersebut akan ditanya alamat anda di Australia. Maka silakan anda tulis: Consulate General RI Victoria – Tasmania, 72 Queens Road, St. Kilda, Melbourne, Australia. Ini alamat perwakilan/konsulat RI di Victoria. Kunjungan anda dilaporkan oleh Mediator ke Konsulat dan pencantuman alamat selama di Australia adalah sesuatu yang lazim (HS. 2010).

Students Exchange Program Tangsel ke Victoria 2010


Diknas Tangsel membuat gebrakan dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah ke arah standar internasional. Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Diknas Tangsel mengkoordinasikan kegiatan pertukaran pelajar ke negara bagian Victoria, Australia. Kegiatan ini akan berlangsung dari tanggal 21 Juli – 31 Juli 2010.

Para peserta yang sudah menyatakan kesediannya adalah adalah dari SMA Negeri 2, 3, dan 4 Tangsel.Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Tangsel, Drs. P.A. Sopandy, M.Pd., yang disertai oleh humas sekolah, Dra Cucu Rostika akan berangkat bersama rombongan. Adapun jumlah peserta siswa sebanyak 9 orang. Rombongan disertai oleh kepala sekolahnya masing-masing, Kepala Bidang Dikmenjur, Drs. Dedi Rafidi merupakan pimpinan rombongan delegasi ini. Kegiatan ini akan merupakan kegiatan yang berlangsung di kota-kota : Melbourne, Bendigo, Somerville, Castlemaine, dan Sydney. Suatu perjalanan yang prestisius dengan menjelajahi beberapa kota dan dua negara bagian (Victoria dan New South Wales).

Rombongan Pendidikan Tangsel akan tiba di Kota Melbourne kemudian melanjutkan perjalanan ke Bendigo. Disini, peserta akan tinggal dan belajar, secara ‘shadowing’ atau ‘membayangi’ siswa mitra di sekolah Weeroona College Bendigo selama 3 hari. Kemudian, pindah ke kota Castlemaine. Para siswa menjalani ‘homestay’ selama 3 hari di Castlemaine Secondary College. Setelah itu peserta akan berangkat menuju Kota Somerville dan melakukan pentas seni di Somerville Secondary College.

Selama melakukan perjalanan ini para kepala sekolah akan menandatangani MOU dan berdiskusi dengan departemen pendidikan setempat. Sekolah yang mau menandatangani MOU adalah SMA Negeri 2 Tangsel dengan Somerville Secondary College, dan SMA Negeri 4 Tangsel dengan Castlemaine Secondary College. Sedangkan SMA Negeri 3 Tangsel sudah lama menjalin ‘sister school’ dengan Weeroona Secondary College. Para peserta akan mengunjungi Kota Sydney dan kembali ke tanah air dari kota ini ( HS. 2010).

Tuesday, May 25, 2010

It’s about accepting a role in the community and doing it well


It’s about accepting a role in the community and doing it well



By

Galuh Yuliani




Memiliki kesempatan untuk tinggal sementara di luar negeri adalah sebuah anugerah. Bukan hanya sekedar kesempatan untuk melihat pemandangan yang berbeda, gedung-gedung dengan arsitektur yang unik, melihat orang dengan beragam warna kulit dan rambut, namun kesempatan untuk melihat bagaimana orang di belahan bumi lain menjalani kehidupannya.

Tidak ada yang extraordinary dari cara hidup aussie people. Umumnya, mereka bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Tidak banyak yang bersedia untuk bekerja lembur melebihi office hour. Di kampus, saya hampir tidak pernah melihat professor atau dosen yang ada di kantor sampai larut malam, demikian juga cukup jarang (walaupun ada) melihat mahasiswa bekerja lembur sampai tengah malam di laboratorium. Apabila kemudian Australia layak disandingkan dengan Negara maju lainnya, maka saya menyimpulkan alasan utamanya bukanlah karena warganya bekerja sangat keras, banting tulang tak mengenal waktu. Mereka bekerja ‘cukup’ dan malah lebih terkesan tidak ingin mengorbankan jam santainya untuk kegiatan kantor.

Contoh yang paling ‘obvious’ untuk menggambarkan bagaimana orang Australia sangat membatasi jam kerja, adalah mengamati jadwal buka tutup mall/toko. Jangan heran apabila pada pukul 6 atau 7 malam, sebagian besar mall atau toko sudah mulai tutup. Bagi saya, yang menganggap jalan-jalan ke mall/toko bersama keluarga sebagai refreshing, kadang merasa ‘kesepian’ dengan begitu sunyi senyapnya kota Melbourne setelah jam 7 malam. Bila kejadian ini hanya terjadi pada saat weekdays (senin-jumat), maka jangan harap weekend (sabtu-minggu) suasananya akan lain. Pada saat weekend, mall-mall justru tutup lebih awal. Bahkan di hari Minggu, mall besar hanya buka sampai jam 5 atau 6 sore. Selain karena pekerja harus dibayar dengan upah yang lebih mahal pada saat weekend, pesan yang tersembunyi seolah-olah mendorong orang untuk lebih banyak di rumah, spending time with family.

Apa yang kemudian melatarbelakangi fakta bahwa Australia merupakan salah satu negara maju di dunia, sepertinya bukan karena jam kerja warganya lebih panjang dari biasa, tapi karena obsesi individunya yang fokus pada kualitas dan efisiensi dari suatu pekerjaan. Lazimnya, upah pegawai di Negara ini dihitung berdasarkan hourly rate (jam-jam-an). Ini sebetulnya menandakan seberapa efisien perhitungan gaji pegawai oleh perusahaan. Gaji yang dibayar per-jam juga mau tidak mau membuat pegawainya jadi lebih menghargai jam kerja. Ada perasaan tidak nyaman apabila seorang pegawai dibayar untuk bekerja selama 5 jam tapi kemudian hanya menggunakan 4 jam saja untuk bekerja. Di sisi lain, perusahaan pun akan sangat jeli melihat bobot dari suatu pekerjaan dan memperkirakan berapa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Hal ini pula lah yang sepertinya melatarbelakangi budaya on time dan sangat menghargai waktu. “Time is money” becomes a reality of life.

Masalah efisiensi ini sebetulnya sangat terasa di berbagai bidang. Seringkali saya melihat di warehouse-warehouse yang menjual berbagai macam barang (mirip gudang yang disulap menjadi toko) hanya ada satu orang yang kita temui di dalam toko yang sedemikian luas. Apabila kita ingin memilih barang, menanyakan berbagai hal tentang barang tersebut, atau membayar belanjaan kita maka ‘dia dan hanya dialah’ orang kita temui. Kadang saya berpikir, jangan-jangan orang tersebut merangkap pemilik toko. Pernah juga kantor mengadakan acara ‘farewell party’ untuk salah satu dosen senior yang akan pensiun. Seperti umumnya mahasiswa lainnya, yang pertama kali kita antisipasi adalah acara makan-makannya. Apalagi saat itu pegawai administrasi yang merangkap seksi acara mengatakan bahwa dia telah menyewa tenaga catering untuk menyiapkan makanan. Saat itu, makanannya memang tidak mengecewakan, berbagai jenis makanan berat, snack-snack, berbagai jenis minuman (including wine) tersedia dengan rapi di atas meja yang telah didekorasi dengan baik. Tapi yang membuat saya terkagum-kagum, pegawai catering yang melayani kita semua saat itu, hanyalah satu orang. Memang ada ciri khas dari acara makan-makan di sini, semua peralatan makan, selalu disposable (sekali pakai). Sedikit banyak ini memudahkan pegawai untuk membersikan segala sesuatunya (just put it in the rubbish bin). Bahkan, masing-masing tamu sebenarnya sudah sangat cekatan memasukkan semua piring, gelas, sendok dan garpu bekas pakainya ke tempai sampah yang disediakan.

Selain efisiensi, focus dari pekerjaan adalah kualitas dan service excellence. Tidak diragukan lagi, Australia menerapkan standar yang sangat tinggi dalam kehidupan masyarakatnya. Contoh yang sangat dekat dengan saya adalah standar keselamatan (safety procedure) di tempat kerja. Ada tahapan/prosedur kerja yang harus kita lewati saat ingin menjalankan eksperimen di laboratorium. Ini mencakup menuliskan prosedur kerja, membuat daftar zat yang dipakai berikut potensi bahaya dari masing-masing zat dan P3K apabila sesuatu tidak berjalan sebagai mana mestinya. Jas lab, goggle (safety glasses), sarung tangan sekali pakai, menjadi peralatan standar yang tidak boleh terlewati. Tissue untuk gelas kimia, tissue untuk melap meja, dan tissue untuk melap tangan, semuanya tersedia dan disposable (tidak boleh berkali-kali pakai). Kadang saya berpikir, kalo standar yang sama ingin diterapkan di Indonesia, maka dana penelitian yang kita peroleh mungkin akan habis hanya untuk menyiapkan perangkat-perangkat pendamping ini.

Sistem yang sudah tertata, standar gaji dan standar kehidupan yang tinggi, merupakan factor penunjang yang menjamin warganya dapat hidup normal dan layak. Pada akhirnya, warga Australia hanya tinggal memilih satu perannya di masyarakat dan kemudian bekerja dengan sebaik mungkin, maka semua kebutuhan untuk ‘hidup sangat layak’ secara otomatis akan terpenuhi.

Just another sharing.. ( GL. 2010)